Ada satu hal menarik dalam tradisi pesantren yang mungkin jarang kita pikirkan. Santri belajar kitab berbahasa Arab setiap hari, tetapi bahasa Arab tidak selalu digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Lalu, bagaimana mungkin bahasa Arab tetap diwariskan?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita melihat tradisi pembelajaran kitab turats di pesantren. Kitab yang dibaca menggunakan bahasa Arab. Santri mempelajari nahwu dan sharaf. Mereka membaca teks, memberi makna, menghafalkan istilah, dan memahami kandungan kitab. Namun ketika guru menjelaskan isi kitab, bahasa yang digunakan justru sering kali adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa Indonesia.
Sekilas, kondisi tersebut mungkin terlihat seperti sebuah kontradiksi. Jika ingin mewariskan bahasa Arab, bukankah seharusnya seluruh proses pembelajaran menggunakan bahasa Arab?
Ternyata tidak selalu demikian.
Tradisi pesantren menunjukkan bahwa bahasa dapat diwariskan melalui berbagai bentuk. Bahasa Arab tidak harus selalu hadir sebagai bahasa percakapan agar tetap hidup. Ia dapat diwariskan melalui aktivitas membaca, memahami, menjelaskan, dan mengajarkan teks.
Metode sorogan dan bandongan menjadi contoh yang sangat jelas. Dalam sorogan, santri membaca kitab di hadapan guru. Guru kemudian menyimak, mengoreksi, dan memberikan penjelasan. Sementara dalam bandongan, guru membaca kitab dan menjelaskan kandungannya di hadapan para santri.
Jika dilihat hanya sebagai metode pembelajaran, sorogan dan bandongan memang merupakan teknik pedagogis yang khas pesantren. Tetapi jika dilihat dari perspektif transmisi bahasa, keduanya memiliki fungsi yang lebih luas.
Melalui kegiatan tersebut, santri belajar bagaimana sebuah teks Arab dibaca dan dipahami. Mereka belajar mengenali struktur kalimat, memahami fungsi kata, mempelajari istilah-istilah keilmuan, dan menghubungkan struktur bahasa dengan makna.
Yang lebih menarik lagi, santri tidak hanya belajar dari isi penjelasan guru. Mereka juga belajar dari praktik gurunya ketika berhadapan dengan teks. Mereka menyaksikan bagaimana sebuah kata dibaca, bagaimana struktur kalimat dianalisis, bagaimana makna ditentukan, dan bagaimana sebuah teks kemudian dijelaskan.
Dengan demikian, yang diwariskan bukan hanya pengetahuan tentang bahasa Arab, tetapi juga sebuah tradisi dalam memperlakukan teks Arab sebagai sumber ilmu.
Di sinilah kitab turats memiliki posisi penting. Sebuah kitab yang dibaca oleh seorang kiai mungkin dahulu juga dipelajari ketika ia masih menjadi santri. Ketika menjadi guru, kitab yang sama kembali diajarkan kepada santri baru. Beberapa tahun kemudian, sebagian santri tersebut mungkin menjadi ustaz dan mengajarkannya lagi kepada generasi berikutnya.
Teksnya mungkin tetap sama. Tetapi orang yang membacanya terus berganti.
Generasi berganti, tetapi tradisi membaca dan memahami kitab tetap berlangsung.
Dalam proses seperti itu, kitab turats dapat berfungsi sebagai jembatan antargenerasi. Ia menghubungkan guru dan murid, generasi lama dan generasi baru, sekaligus menghubungkan masyarakat masa kini dengan tradisi keilmuan Islam masa lalu.
Karena itu, ketika berbicara tentang kemampuan bahasa Arab di pesantren, kita tidak seharusnya hanya menggunakan ukuran kemampuan berbicara. Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu kemampuan membaca dan memahami teks keilmuan.
Seorang santri mungkin tidak menggunakan bahasa Arab untuk berbincang dengan temannya di luar kelas. Tetapi ia dapat membaca teks Arab, memahami struktur gramatikalnya, mengenali istilah fikih atau tafsir, kemudian menjelaskan kembali kandungannya kepada orang lain.
Kemampuan seperti inilah yang memungkinkan tradisi keilmuan terus berlanjut.
Dari kiai kepada ustaz, dari ustaz kepada santri, kemudian dari santri kepada generasi berikutnya. Di dalam proses tersebut terjadi transfer pengetahuan sekaligus transfer kemampuan literasi bahasa Arab.
Inilah yang membuat pesantren menarik jika dilihat dari perspektif transmisi bahasa. Pesantren tidak harus menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa percakapan sehari-hari untuk membuatnya tetap hidup. Pesantren mempertahankan bahasa Arab dengan memastikan bahwa generasi baru tetap mampu berinteraksi dengan teks-teks berbahasa Arab.
Dengan kata lain, bahasa Arab yang diwariskan di pesantren bukan hanya bahasa untuk berbicara, tetapi bahasa untuk membaca dan memahami ilmu.
Mungkin inilah salah satu keunikan tradisi pesantren. Bahasa Arab tidak selalu terdengar dalam percakapan sehari-hari, tetapi ia terus hadir dalam halaman kitab, suara guru ketika membaca teks, catatan santri, penjelasan ustaz, dan proses belajar yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Bahasa Arab tidak selalu diwariskan melalui percakapan.
Kadang-kadang, ia diwariskan melalui sebuah kitab yang terus dibaca.
Reviewed by aprase
on
September 02, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: