Akhir-akhir ini, media sosial
diramaikan oleh penggunaan kata “syududu”. Istilah ini bahkan sudah masuk ke
lirik lagu para konten kreator. Fenomena ini memang menarik, tetapi sekaligus
menimbulkan pertanyaan sederhana: sebenarnya apa arti kata tersebut?
Jika ditelusuri secara kebahasaan,
“syududu” bukanlah kosakata baku, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Suryani.
Padahal, bahasa Suryani yang masih satu rumpun Semitik dengan bahasa Arab dan
Ibrani memiliki pola pembentukan kata dan sistem bunyi yang relatif ketat.
Artinya, bentuk “syududu” terasa janggal jika dilihat dari kaidah aslinya.
Kemungkinan besar, kata yang
dimaksud adalah bentuk pelafalan populer dari kata Arab شُدود (syudūd). Dalam kajian leksikal, شُدود
merupakan bentuk jamak taksir dari akar kata ش د د
(syadda–yashuddu). Akar kata ini secara umum mengandung makna “kuat”, “keras”,
“kokoh”, atau “menegaskan”.
Dalam kamus Arab dijelaskan:
شُدودٌ: اسمٌ في صورة جمع تكسير، جذرُه (شدد)
“Syudūd adalah kata benda dalam bentuk jamak taksir, yang berasal dari akar
kata شَدَّ.”
Dari akar yang sama, lahir berbagai
turunan makna, di antaranya:
شَدِيد (syadid): kuat atau keras
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras.” (QS. Al-Buruj: 12)
أَشُدَّهُ (asyuddahu): masa kedewasaan atau kekuatan
penuh
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ
“Hingga ketika dia mencapai usia dewasa (kekuatan sempurna)...” (QS. Yusuf: 22)
أَشِدَّاء (asyidda’): sangat keras atau tegas
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Mereka keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berkasih sayang di
antara mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Dalam penggunaan sehari-hari, akar ini juga muncul dalam ungkapan seperti:
شَدَّ الحَبْلَ: mengencangkan tali
شَدِيدُ الْبَأْسِ: sangat kuat atau tangguh
Bahkan dalam konteks lain misal شَدَّادُ البَطْنِ dapat merujuk pada korset atau sesuatu
yang mengencangkan perut.
Dari penelusuran ini, dapat
disimpulkan bahwa “syududu” yang viral kemungkinan besar hanyalah bentuk
pelafalan tidak baku dari kata yang berakar pada makna “kekuatan” atau
“ketegasan”. Masalahnya bukan sekadar benar atau salah, tetapi soal ketepatan
memahami.
Mengikuti tren tentu sah-sah saja. Namun, memahami makna di balik kata yang digunakan membuat kita tidak sekadar ikut-ikutan, melainkan juga lebih sadar dan tepat dalam berbahasa.
Reviewed by aprase
on
Mei 05, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: