Bahasa Arab Bukan Sekadar Mata Pelajaran: Belajar dari Perspektif Joshua Fishman

Ketika bahasa Arab diajarkan di sekolah atau pesantren, kita biasanya melihatnya sebagai sebuah mata pelajaran. Ada guru, ada buku, ada materi, ada tugas, dan ada ujian. Keberhasilannya kemudian diukur dari seberapa baik siswa atau santri menguasai kosakata, nahwu, sharaf, membaca, menulis, atau berbicara.

Cara pandang tersebut tentu tidak salah.

Tetapi bagaimana jika bahasa Arab dilihat dari sudut pandang yang lebih luas?

Bagaimana jika bahasa Arab bukan hanya dianggap sebagai sesuatu yang dipelajari, tetapi sebagai sebuah tradisi keilmuan yang diwariskan?

Pertanyaan inilah yang membuat pemikiran Joshua Fishman menjadi menarik untuk digunakan dalam memahami bahasa Arab di lingkungan pesantren.

Fishman dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam kajian language maintenance dan language shift. Ia melihat bahwa keberlangsungan sebuah bahasa tidak hanya ditentukan oleh struktur bahasa atau jumlah penuturnya. Ada faktor sosial, budaya, kelembagaan, dan terutama proses pewarisan antargenerasi yang ikut menentukan apakah sebuah bahasa dapat terus bertahan.

Sederhananya, sebuah bahasa akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan jika bahasa tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Persoalannya menjadi menarik ketika teori tersebut diterapkan pada bahasa Arab di Indonesia.

Bahasa Arab bukan bahasa ibu mayoritas masyarakat Indonesia. Ia juga bukan bahasa yang digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa Arab telah bertahan selama berabad-abad sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan Islam.

Mengapa bisa demikian?

Salah satu jawabannya adalah karena terdapat institusi yang terus menjaga proses pewarisannya.

Pesantren merupakan contoh yang sangat menarik. Di dalam pesantren terdapat hubungan antargenerasi yang sangat kuat. Kiai mengajarkan kepada ustaz. Ustaz mengajarkan kepada santri. Santri senior membantu santri junior. Sebagian santri kemudian menjadi ustaz dan kembali mengajarkan ilmu yang mereka peroleh kepada generasi baru.

Di dalam rantai tersebut, bahasa Arab ikut diwariskan.

Namun, yang diwariskan bukan selalu kemampuan bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Yang diwariskan bisa berupa kemampuan membaca teks Arab, memahami struktur gramatikal, mengenali istilah keilmuan, memahami kandungan kitab, dan menjelaskan kembali teks tersebut kepada orang lain.

Inilah yang membuat transmisi bahasa Arab di pesantren memiliki karakter yang khas.

Jika kita hanya bertanya, "Apakah santri menggunakan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari?", kita mungkin kehilangan sebagian besar fenomena yang sebenarnya sedang terjadi.

Pertanyaan yang lebih tepat mungkin adalah, "Apakah santri masih memiliki kemampuan untuk membaca, memahami, dan meneruskan tradisi keilmuan yang menggunakan bahasa Arab?"

Jika jawabannya ya, maka sebenarnya sebuah proses transmisi sedang berlangsung.

Di sini kita dapat membedakan antara belajar bahasa dan mewariskan bahasa. Belajar bahasa bisa terjadi ketika seseorang mengikuti sebuah kelas selama beberapa bulan atau beberapa semester. Tetapi transmisi terjadi ketika pengetahuan, praktik, dan nilai yang berkaitan dengan bahasa tersebut diteruskan kepada orang lain dan akhirnya sampai kepada generasi berikutnya.

Seorang santri belajar membaca kitab dari ustaznya. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi pengajar. Ia mengajarkan kembali kitab yang sama kepada santri baru. Pada saat itulah sebuah rantai transmisi terbentuk.

Yang berpindah bukan hanya isi kitab. Yang berpindah juga cara membaca, cara memahami, cara menjelaskan, dan cara mengajarkan teks tersebut.

Dalam perspektif Fishman, keberadaan institusi menjadi sangat penting dalam proses semacam ini. Sebuah bahasa membutuhkan ruang sosial agar tetap memiliki fungsi. Pesantren menyediakan ruang tersebut melalui tradisi pengajian kitab, hubungan guru dan santri, sistem pendidikan, serta regenerasi pengajar.

Kitab turats menjadi medianya. Kiai dan ustaz menjadi agen transmisinya. Santri menjadi penerima sekaligus calon pewarisnya. Tradisi pengajian menjadi ruang sosial tempat proses tersebut berlangsung.

Karena itu, pesantren sebenarnya tidak hanya mengajarkan bahasa Arab.

Pesantren juga menciptakan kondisi yang membuat bahasa Arab tetap dibutuhkan.

Bahasa Arab dibutuhkan karena santri ingin membaca kitab. Kitab dibutuhkan karena menjadi sumber ilmu. Ilmu dibutuhkan karena menjadi bagian dari tradisi pendidikan pesantren. Dan tradisi tersebut terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Rantai inilah yang membuat bahasa Arab memiliki alasan untuk tetap hidup.

Dari sini kita bisa melihat bahwa bahasa Arab di pesantren sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai mata pelajaran. Ia juga dapat dipahami sebagai bagian dari warisan keilmuan.

Perubahan sudut pandang ini penting karena membuat kita mengajukan pertanyaan yang berbeda. Kita tidak hanya bertanya bagaimana metode terbaik mengajarkan bahasa Arab, tetapi juga bagaimana sebuah institusi berhasil mempertahankan bahasa Arab dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita tidak hanya melihat nilai ujian santri, tetapi juga melihat apakah tradisi membaca kitab masih berlangsung. Kita tidak hanya menghitung jumlah kosakata yang dikuasai, tetapi juga melihat apakah generasi baru masih mampu memasuki dunia keilmuan yang dibangun melalui teks-teks Arab.

Pada akhirnya, mungkin inilah cara yang lebih luas untuk memahami bahasa Arab di pesantren.

Bahasa Arab bukan sekadar bahasa asing yang dipelajari.

Ia bukan sekadar mata pelajaran.

Ia adalah bagian dari rantai keilmuan yang diwariskan.

Selama masih ada guru yang mengajarkan, santri yang belajar, kitab yang dibaca, dan generasi yang meneruskan tradisi tersebut, maka bahasa Arab tidak sekadar sedang dipelajari.

Bahasa Arab sedang diwariskan.

Bahasa Arab Bukan Sekadar Mata Pelajaran: Belajar dari Perspektif Joshua Fishman Bahasa Arab Bukan Sekadar Mata Pelajaran: Belajar dari Perspektif Joshua Fishman Reviewed by aprase on September 03, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Videos

{getContent} $results={3} $label={recent} $type={video}
Diberdayakan oleh Blogger.