Pada tulisan sebelumnya, saya membahas artikel
dengan judul “Makna Sebenarnya dari Barakallah, Bukan Sekadar Ucapan Formal,
Kali ini, kita akan mengupas frasa lain yang juga sangat terkenal di kalangan
masyarakat Indonesia, yaitu ungkapan “Masya Allah” (ما شاء الله)
Frasa ini sangat dikenal oleh banyak orang. Di
dalam percakapan sehari-hari, di media sosial, serta di berbagai acara
keagamaan, istilah ini sering diucapkan saat seseorang menyaksikan sesuatu yang
indah atau mengesankan. Namun, sayangnya, ada banyak orang yang mengucapkannya
hanya sebagai mode atau kebiasaan verbal tanpa benar-benar memahami arti di
baliknya.
Dalam segi bahasa, ما شاء الله“terdiri dari tiga kata: ما, شاء, dan الله. Kata ما bisa diartikan sebagai
“sesuatu”, sementara شاء
berarti “menghendaki”. Dengan demikian, “ما شاء الله” secara sederhana bisa
dimaknai sebagai “apa yang dikehendaki Allah” atau “ini adalah hasil dari
kehendak Allah.
Ungkapan tersebut bukan hanya sekadar bentuk
kekaguman, tetapi juga pengakuan bahwa segala keindahan, prestasi, dan
kenikmatan sejatinya berasal dari Allah, bukan hanya hasil usaha manusia
semata.
Inilah sisi reflektif dari ungkapan ini. Banyak
orang dengan mudah merasa terkesan dengan prestasi diri, rumah baru, kendaraan
baru, jabatan yang tinggi, nilai yang baik, atau anak yang berprestasi. Tetapi
rasa kagum ini sering kali beralih menjadi kesombongan yang halus.
Seseorang merasa bahwa semua keberhasilan
hanyalah hasil kerja kerasnya, kemudian lupa bahwa ada kehendak Allah yang
menentukan segalanya. Oleh karena itu, Islam mendorong setiap Muslim untuk
mengucapkan “ما شاء الله”
ketika melihat nikmat pada dirinya sendiri maupun pada orang lain, agar hatinya
senantiasa rendah hati dan tidak terjerat dalam rasa tinggi hati.
Hal ini diperkuat dalam Surah Al-Kahfi ayat 39:
﴿وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُۙ لَا
قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِۚ﴾
“Ketika engkau memasuki kebunmu, mengapa engkau
tidak mengucapkan: ‘Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh’ (Sungguh, semua ini
berdasarkan kehendak Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah). ”
Ayat ini menarik karena peringatan dihadapkan
bukan kepada orang yang miskin, tetapi kepada orang yang merasa bangga dengan
kebunnya. Artinya, masalah paling besar bagi manusia sering kali bukanlah
kemiskinan, melainkan kehilangan diri ketika diberikan kelebihan.
Di samping itu, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar
juga menjelaskan pentingnya mengucapkan kalimat ini ketika melihat sesuatu yang
menakjubkan. Dia mengutip hadis dari Anas r. a. yang menyatakan:
﴿مَنْ رَأَى شَيْئًا فَأَعْجَبَهُ فَقَالَ: مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللهِ لَمْ يَضُرَّهُ﴾
“Siapa pun yang melihat sesuatu yang
menakjubkan lalu mengucapkan ‘Mā syā’allāh lā quwwata illā billāh’, maka hal
itu tidak akan membahayakannya. ”
Dari sini, para ulama menjelaskan bahwa
ungkapan “Masya Allah” tidak hanya sekadar ungkapan kekaguman, tetapi juga
sebagai bentuk dzikir, rasa syukur, sekaligus doa agar terlindungi. Dalam
ajaran Islam, rasa kagum yang tidak disertai dengan dzikir dikhawatirkan dapat
menimbulkan penyakit hati seperti iri, kesombongan, atau bahkan pandangan
negatif. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan umatnya agar setiap kekaguman
senantiasa diarahkan kembali kepada Allah.
Reviewed by aprase
on
Mei 15, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: