Banyak orang mempelajari bahasa Arab
selama bertahun-tahun, mulai dari mengingat kosakata hingga mendalami nahwu dan
sharaf. Tetapi saat mendengar orang Arab berbicara di TikTok atau YouTube, mereka
malah merasa bingung. Karena orang Arab tidak sering menggunakan bahasa formal dalam
percakapan sehari-hari seperti yang terdapat di dalam buku pelajaran.
Mereka lebih jarang menggunakan frasa
formal seperti يلا (yalla: ayo), خلاص (khalas: sudah/cukup),
atau تمام (tamam:
oke/sip). Dari sini tampak bahwa bahasa yang berkembang di media sosial sebenarnya
lebih fleksibel dibanding bahasa di ruang kelas.
Fenomena bahasa Arab gaul menunjukkan
bahwa bahasa senantiasa berubah seiring dengan budaya dan generasi penggunanya.
Anak muda Arab saat ini berbicara dengan cepat, penuh ekspresi, dan emosional, mirip
dengan anak muda Indonesia yang sering menggunakan istilah “gas”, “healing”.
Di media sosial, istilah seperti حبيبي (Habibi:
bro) sering kali dipakai di antara teman, bukan hanya untuk kekasih. Sementara
ungkapan شو؟ (sho?: apa?) menjadi karakteristik khas dalam percakapan
santai di dialek Syam, termasuk Lebanon dan Palestina. Bahasa bukan sekadar tentang
kaidah, melainkan juga mengenai identitas dan kebiasaan sosial.
Menariknya, bahasa Arab sehari-hari membuat bahasa Arab tampak lebih akrab dengan aktivitas sehari-hari. Banyak siswa yang awalnya menganggap bahasa Arab itu rumit dan kaku mulai tertarik setelah mendengar frasa sederhana seperti معليش (ma’lish — tak masalah) atau فاضي (fadi: sedang santai/tidak sibuk).
Ungkapan tersebut terasa lebih akrab
karena sering digunakan dalam dialog yang sebenarnya. Orang mulai menyadari bahwa
bahasa Arab bukan sekadar bahasa kitab, tetapi juga digunakan dalam candaan, percakapan
santai, dan di media sosial.
Namun di balik tren bahasa Arab gaul
yang populer, terdapat fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan. Banyak orang memakai
istilah Arab hanya untuk terlihat menarik tanpa mengetahui artinya. Kata والله (wallah:
demi Allah) contohnya, sering digunakan sembarangan untuk beris jokes atau membesar-besarkan
sesuatu, meskipun secara arti termasuk jenis sumpah.
Demikian pula ungkapan يا ساتر (ya
sater: astaga/ya ampun) yang sering dijadikan hanya efek dramatis dalam konten
video. Bahasa sering kali dianggap hanya sebagai tren, alih-alih sebagai elemen
dari makna budaya dan komunikasi. Contoh lain misalnya kata يا عيني (ya aini) yang artinya gemas/kagum:.
Fenomena ini sejatinya menjadi sorotan
terhadap pengajaran bahasa Arab yang terlalu menekankan pada teori formal. Banyak
pelajar dapat membaca teks Arab, tetapi mengalami kesulitan dalam memahami percakapan
asli orang Arab di dunia maya. Namun, tujuan utama dari bahasa adalah berkomunikasi.
Mungkin sudah saatnya pembelajaran bahasa Arab memperkenalkan percakapan sehari-hari,
dialek yang umum, dan budaya digital Arab agar bahasa tersebut terasa lebih dinamis.
Memahami satu kata dasar seperti tamam
atau yalla kadang-kadang lebih memotivasi untuk berbicara daripada hanya menghafal
banyak aturan. Jika kita perhatikan bahasa Arab sehari-hari menunjukkan bahwa bahasa
akan senantiasa berevolusi seiring dengan perkembangan manusia.
Bahasa al Quran ini beradaptasi dengan
perkembangan zaman, media sosial, dan budaya anak muda. Dari istilah habibi, khalas,
hingga ma’lish, kita memahami bahwa bahasa bukan sekadar sarana belajar di sekolah,
tetapi juga cara orang berhumor, bersenda gurau, marah, dan mengekspresikan perasaan.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang akhirnya lebih cepat tertarik pada bahasa Arab
ketika mereka melihat aspek santainya, bukan hanya aspek formalnya.
Reviewed by aprase
on
Mei 17, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: