Bayangkan, temanmu baru saja
mengunggah foto wisuda di Instagram atau rekan kerja membagikan kabar rezeki
baru. Respons pertama yang muncul biasanya sederhana: “Barakallah!”
Ungkapan ini sudah menjadi bagian
dari percakapan sehari-hari, baik saat ada kabar bahagia, momen pernikahan,
pencapaian, maupun unggahan kecil di media sosial. Namun, sering kali ia hanya
diucapkan sebagai formalitas, tanpa benar-benar direnungi maknanya.
Dalam bahasa Arab, kata
“Barakallah” berasal dari akar kata بارك yang berarti memberkahi atau melimpahkan kebaikan yang terus
bertambah. Karena itu, ketika seseorang mengucapkan “Barakallah”, maknanya
bukan sekadar ucapan selamat, tetapi doa: “Semoga Allah melimpahkan berkah.”
Lalu, apa sebenarnya yang
dimaksud dengan berkah?
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
berkah adalah ziyadatul khair (زيادة الخير), yakni bertambahnya kebaikan. Dengan kata
lain, berkah bukan hanya tentang banyaknya harta atau besarnya pencapaian,
tetapi hadirnya manfaat dan kebaikan dalam sesuatu yang kita miliki.
Penjelasan serupa juga
disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Ia mendefinisikan berkah sebagai
tsubut al-khair al-ilahi fi asy-syai’ (ثبوت الخير الإلهي في الشيء), yaitu menetapnya
kebaikan ilahi pada sesuatu. Karena itu, sesuatu yang tampak kecil bisa terasa
sangat cukup dan menenangkan jika di dalamnya ada berkah.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan makna
ini melalui doa-doanya. Ketika mendoakan pasangan yang baru menikah, beliau
bersabda:
“بارك الله لك، وبارك عليك، وجمع بينكما في خير”
“Semoga Allah memberkahimu,
melimpahkan berkah atasmu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dari sini kita bisa memahami
bahwa “Barakallah” bukan sekadar kata manis atau komentar singkat di media
sosial. Ia adalah doa agar nikmat yang dimiliki seseorang tidak berhenti pada
kesenangan sesaat, tetapi tumbuh menjadi kebaikan yang terus hidup dan memberi
manfaat.
Karena itu, mari hidupkan kembali makna “Barakallah” dalam keseharian kita. Jangan hanya menjadikannya basa-basi digital, tetapi ucapkan dengan doa yang tulus. Siapa tahu, keberkahan yang kita doakan untuk orang lain justru kembali kepada diri kita sendiri.
Reviewed by aprase
on
Mei 11, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: