Saat berada di Masjidil Haram, tak jarang kita mendengar sapaan dari para petugas keamanan, polisi, tentara, atau penjaga yang ditujukan kepada jemaah sebagai "Hajja" (حاجة) bagi kaum wanita dan "Haji" (حاج) untuk kaum pria. Meskipun terkesan seperti panggilan biasa, sebutan ini sebenarnya memegang peranan krusial dalam menjaga kelancaran ibadah bagi jutaan orang yang hadir.
Secara umum, panggilan
"Hajja" atau "Haji" mengandung arti "Ibu/Bapak jemaah
haji atau umrah. " Ini lebih dari sekadar bentuk penghormatan. Di
lapangan, sebutan ini sering kali berfungsi sebagai aba-aba singkat demi
memastikan pergerakan orang tetap tertata, aman, dan tidak saling menghalangi.
Di lokasi yang padat seperti Masjidil Haram, komunikasi haruslah ringkas,
jelas, dan mudah ditangkap oleh jemaah dari berbagai penjuru dunia.
Beberapa contoh kalimat yang
kerap terdengar adalah "Yalla, Hajja! " / "Yalla, Haji! ",
yang kira-kira bermakna "Mari, Ibu/Bapak, silakan jalan! " atau
"Silakan bergerak maju. "
Panggilan semacam ini umumnya
dipakai untuk mengingatkan para jemaah agar tidak berlama-lama berhenti atau
sampai menghambat alur pergerakan orang lain, khususnya di area yang sangat
ramai seperti area tawaf (mataf), jalur sa'i, atau di dekat pintu masuk dan
keluar.
Sapaan lain yang biasa digunakan
adalah "Thariq, Hajja! " / "Thariq, Haji! ", yang berarti
"Mohon beri jalan, Bu/Pak! " atau "Permisi. " Ungkapan ini
sering diucapkan ketika petugas perlu membuka ruang, membantu jemaah yang sudah
lanjut usia atau dalam kondisi sakit, atau untuk mengurai kepadatan agar tidak
terjadi penumpukan yang membahayakan.
Jika direnungkan lebih dalam,
panggilan ini juga menunjukkan bahwa ibadah di Tanah Suci tidak hanya soal
relasi personal dengan Tuhan, namun juga mencakup aspek kedisiplinan sosial. Di
tengah keramaian jutaan orang dengan beragam bahasa, budaya, dan kebiasaan,
ketertiban menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri. Kadang kala,
kita terlalu larut dalam kekhusyukan pribadi sehingga lupa bahwa berhenti
mendadak, duduk sembarangan, atau menghabiskan waktu untuk berfoto bisa saja
merepotkan orang lain.
Oleh sebab itu, para petugas
menggunakansapaan "Haji" dan "Hajja. " Mereka tentu tidak
mungkin menghafal nama atau asal usul setiap jemaah yang datang. Sapaan ini
bersifat netral, sopan, mudah dipahami, dan secara implisit mengingatkan bahwa
setiap orang yang berada di sana memiliki tujuan yang sama: beribadah dengan
tertib, aman, serta saling menjaga.
Reviewed by aprase
on
Mei 19, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: