Jika pada tulisan sebelumnya saya
telah membahas tentang makna lughah menurut beberapa pakar, maka
pandangan-pandangan tersebut sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam
beberapa aliran pemikiran berikut.
1.
Aliran Tradisional
Aliran ini memandang bahasa sebagai kumpulan simbol
bunyi yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.
Bahasa dianggap sebagai sistem yang diatur oleh kaidah tata bahasa dan
morfologi. Tokoh penting dari aliran ini adalah Ibn Jinni, yang mendefinisikan
bahasa sebagai “suara-suara yang digunakan oleh setiap kaum untuk
menyampaikan tujuan mereka.”
2.
Aliran Fungsional
Berbeda dengan aliran tradisional, aliran ini
menekankan peran bahasa dalam komunikasi dan interaksi sosial. Bahasa dipahami
sebagai alat untuk mencapai berbagai tujuan, seperti mengekspresikan identitas,
membangun hubungan, dan menyampaikan pengetahuan. Tokoh utama dari aliran ini
adalah Ferdinand de Saussure, yang menyoroti eratnya hubungan antara bahasa dan
masyarakat.
3.
Aliran Rasional
Aliran ini berfokus pada hubungan antara bahasa dan
pikiran manusia. Bahasa dianggap sebagai kemampuan bawaan yang telah dimiliki
manusia sejak lahir, bukan sekadar hasil dari proses sosial. Tokoh terkenal
dalam aliran ini adalah Noam Chomsky, dengan teorinya tentang “Tata Bahasa
Universal” (Universal Grammar), yang berpendapat bahwa semua bahasa
memiliki struktur dasar yang sama dan bersifat universal.
4.
Aliran Modern
Aliran ini diwakili oleh Tammam Hassan, salah satu tokoh
linguistik modern terkemuka. Ia memandang bahasa sebagai sistem yang utuh dan
terpadu, yang terdiri atas dua unsur utama: makna dan struktur (mabna).
Menurutnya, makna merupakan dasar utama dalam bahasa, sedangkan tata bahasa
bertujuan untuk mengantarkan pada pemahaman makna tersebut. Struktur bukan
hanya sarana untuk menyampaikan makna, tetapi juga berperan aktif dalam
membentuk dan memperjelas makna itu sendiri.
Dari keempat aliran di atas,
tampak bahwa pandangan tentang hakikat bahasa sangat beragam dan terus
berkembang. Setiap aliran memiliki fokus dan titik tekan yang berbeda, mulai
dari bentuk dan kaidah bahasa, fungsi sosial, kemampuan kognitif manusia, hingga
keterpaduan antara makna dan struktur. Perbedaan ini menunjukkan bahwa bahasa
bukanlah fenomena tunggal yang dapat dipahami dari satu sisi saja, melainkan
suatu sistem yang kompleks dan dinamis.
Perkembangan pemikiran tentang
bahasa juga mencerminkan cara manusia memahami dirinya dan dunia sekitarnya.
Dari pandangan tradisional hingga modern, bahasa selalu menjadi cermin dari
perubahan cara berpikir manusia, baik dalam ranah sosial maupun intelektual.
Dengan memahami berbagai aliran ini, kita dapat melihat bahwa studi bahasa
tidak hanya berbicara tentang kata dan kalimat, tetapi juga tentang makna,
pikiran, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. (agp)
Reviewed by aprase
on
Oktober 28, 2025
Rating:
