Alhamdulillah...Awal September kemarin, aku mendapat kesempatan langka untuk melintasi lima negara, meski sebagian hanya bersifat transit singkat. Perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai tenaga pendidik di kampus, yang menuntut kami melakukan riset dan pengamatan langsung ke lapangan.
Perjalanan dimulai dari Malang menuju Juanda, sekitar 1,5 jam naik travel. Dari situ, kami terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, selama 2,5 jam. Walau singkat, kesempatan untuk menikmati suasana KL Central memberi gambaran bagaimana kota besar mengelola modernitas dan mobilitas masyarakatnya—hal yang relevan untuk studi sosial dan linguistik yang kami lakukan.
Selanjutnya, kami terbang ke Jeddah selama kurang lebih 8,5 jam. Di Makkah dan Madinah, pengalaman melihat Ka'bah secara langsung memberi dimensi spiritual yang sulit diungkapkan kata-kata. Selain aspek religius, perjalanan ini juga menjadi refleksi pribadi tentang peran kita sebagai pendidik dalam menanamkan nilai-nilai etika dan moralitas kepada mahasiswa.
Dari Jeddah, perjalanan berlanjut ke Amman, Jordan, selama 2,5 jam. Setibanya di sana, kami disambut oleh perwakilan Kedutaan Indonesia dan mengunjungi Markaz Lughah. Diskusi dengan profesor linguistik dan mahasiswa Indonesia di sana menegaskan pentingnya interaksi akademik lintas negara sebagai sarana memperkaya perspektif, sekaligus membangun jejaring intelektual yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan di tanah air.
Perjalanan pulang melalui Oman memakan waktu sekitar 3,5 jam. Bertemu jamaah umroh Indonesia yang juga transit di Oman memberi pengalaman sosial tambahan—bagaimana interaksi singkat bisa membangun rasa kebersamaan di tengah perjalanan internasional. Terakhir, penerbangan dari Oman ke Jakarta memakan waktu 8 jam 5 menit, dan kenyamanan pesawat memungkinkan refleksi pribadi serta evaluasi pengalaman selama perjalanan.
Meski perjalanan ini tampak melelahkan, pengalaman ini menegaskan bahwa perjalanan akademik dan spiritual memiliki nilai yang tak ternilai. Bahkan tantangan kecil, seperti menunggu penerbangan lanjutan ke Juanda dengan tiket yang hampir habis, menjadi pengingat bahwa kesabaran dan fleksibilitas adalah bagian penting dari setiap perjalanan. (agp)
luar biasa
BalasHapus